Di Bawah Kelabu - #3
Memikirkannya kembali, mungkin seharusnya aku bertanya. Mungkin paling tidak aku akan bisa memahami alasannya untuk pergi di kemudian hari.
Seperti yang kubilang, dia adalah musim panas. Di musim dingin, jiwanya seolah mati. Dia tidak berlari keluar untuk berbelanja setelah shift-nya berakhir di musin dingin. Dia tidak mengajakku untuk menonton film bersama di musim dingin. Frekuensi tawanya berkurang di musim dingin.
Di hari-hari seperti itu, aku akan memberinya kopi dalam gelas plastik di ujung hari. Aku akan memutarkan lagu-lagu penghangat musim dingin di malam hari. Aku akan menggandeng tangannya untuk menikmati langit yang kelabu ketika pagi hadir.
Aku adalah hujan, dan aku menyembunyikan setiap lukanya yang tak nampak oleh mata.
Eta Wardana
Comments