Petrichor, Ketika Hujan Hanya Meninggalkan Jejak Untukku Seorang
Ada seorang gadis yang namanya kutulis berulang-ulang di antara serpihan cermin.
Terkadang dengan tumpahan tinta.
Terkadang dengan tetesan krayon terbakar.
Terkadang dengan sisa air mata.
Ada seorang gadis yang namanya tidak bisa berhenti kugumamkan di antara doa.
Terkadang aku mengharapkan kebahagiaan.
Terkadang aku menginginkan sebentuk penerimaan.
Terkadang aku tidak ingin menjadi satu-satunya yang terluka.
Ada seorang gadis yang namanya berusaha kulupa.
Terkadang kuhapus dengan tumpukan pekerjaan.
Terkadang kubuang bersama perjalanan panjang ke belahan lain dunia.
Terkadang kukubur bersama barang-barang yang masih menyimpan aromanya.
Ada seorang gadis yang namanya terlalu menyakitkan untuk didengar.
Terkadang tersebut oleh temanku dalam reuni percakapan.
Terkadang mengambang dalam pertanyaan penuh kekhawatiran.
Terkadang didesiskan bersama argumen yang menyuruhku kembali pada rasionalitas.
Ada seorang gadis yang namanya melambangkan lebih dari satu perasaan.
Terkadang aku menganggapnya cinta.
Terkadang aku yakin itu obsesi belaka.
Terkadang aku sadar bahwa ada hati yang tidak pernah berhenti patah.
Ada seorang gadis yang tidak menginginkan namanya berada dalam genggaman.
Sebab ia mengganti alamat.
Sebab ia tak menjawab panggilan.
Sebab ia tak lagi bercakap dengan teman yang kupunya.
Sebab ia tak lagi menoleh ke belakang meski aku berteriak meraung merana.
(Eta Wardana, 24 Januari 2019)
Comments