Sastra Jepang UI: Tentang Lulus SMA dan Memilih Jurusan

Credit: 周康
Lulus SMA, kuliah, cari kerja, menikah, berkeluarga, kemudian menjalani hari tua. Formula sederhana. Resep yang diolah berulang-ulang. Namun pada kenyataannya, bahkan bagi sebagian besar orang yang memilih formula yang sama, apa yang dihadapi tidak pernah persis serupa. Kau bisa memulai dari titik yang sama, kecepatan yang sama, tujuan yang sama, tapi yang namanya kehidupan tidak pernah membiarkan seseorang memiliki perjalanan yang serupa.

Sewaktu duduk di kelas sepuluh, tahun pertama di SMA, aku sudah memikirkan apa yang ingin kulakukan setelah lulus. Terlalu cepat mungkin, tapi itulah aku. Selalu tidak sabar untuk melihat ke masa depan, selalu berpikir tentang apa yang akan menjadi akhir dari perjalanan. Sulit untuk menikmati masa sekarang ketika benakmu terlalu terlilit dengan rencana dan mimpi untuk masa mendatang. Namun sekali lagi, itulah aku. Bahkan sampai sekarang, aku masih sering bergulat dengan satu sisi mengesalkan itu.

Intinya, aku sudah memikirkan tentang rencana setelah lulus SMA di tahun pertama aku menjalani masa SMA. Hal yang kupikirkan sebenarnya masih mendasar, benar-benar berusaha untuk menjawab "apa". Apa aku ingin kuliah? Apa aku ingin bekerja? Apa aku ingin masuk institusi atau akademi? Apa aku ingin mengambil gap year?




Satu hal yang agak kusesali saat ini, memasuki tahun kedua kuliah, adalah bahwa aku tidak memberanikan diri untuk mengambil gap year setelah lulus SMA agar bisa beristirahat sejenak dari kejenuhan bersekolah. Budaya gap year belum familiar di Indonesia. Orang masih mengasosiasikan lulusan SMA yang mengambil gap year sebagai yang tidak lulus tes masuk universitas atau yang memang tidak berniat untuk kuliah. Penyesalanku adalah terlalu terpaku pada apa yang dipikirkan orang lain. Jadi saat itu, mengambil gap year menjadi opsi terakhir, padahal sebenarnya, bisa saja aku mendapatkan manfaat lebih besar dari mengambil gap year alih-alih langsung terjun ke dunia perkuliahan.

Jadi tahun pertama di SMA, aku memutuskan bahwa aku tidak ingin bekerja dulu dan bahwa aku akan langsung lanjut kuliah setelah lulus. Aku memilih universitas negeri, karena itu yang diinginkan oleh orangtua. Kemudian di tahun kedua SMA, aku memilih jurusan apa yang aku inginkan.

Jurusan yang kemudian aku pilih ini sebenarnya, bahkan bagi diriku sendiri, agak mengejutkan. Aku anak IPA, bukan atas kemauan sendiri, tetapi karena kebetulan SMA swasta tempat aku belajar tidak memiliki jurusan IPS. Jadi di antara teman-teman seangkatan, bergulir minat ke jurusan yang masih serumpun: kedokteran, keperawatan, psikologi (beberapa universitas mengkategorikan jurusan psikologi sebagai Saintek), fisika, biologi, teknik industri, teknik kimia, teknik pangan, dan seterusnya. Tentu saja ada beberapa, termasuk aku sendiri, yang memutuskan untuk mengambil jurusan Soshum, meski banyak guru yang sempat mengungkapkan kekhawatiran. Takut kami akan gagal di SNMPTN karena tidak punya mata pelajaran yang mendukung dan karena kebanyakan dari kami memilih universitas luar daerah. Takut kami akan gagal di SBMPTN karena tidak menguasai materi Soshum.




Namun kenyataannya (tanpa bermaksud merendahkan), mempelajari materi Soshum bukanlah masalah utama. Yang menjadi masalah adalah tekad dan persiapan kami. Materi ujian, baik Ujian Nasional maupun SBMPTN, sebenarnya bisa dikebut dalam tiga bulan (baik IPA maupun IPS) apabila perencanaan dan persiapannya memang matang. Kita tidak perlu sekolah tiga tahun untuk mengejar materi UN atau SBMPTN. Tiga bulan cukup. Tambah jadi enam bulan jika ingin mendapatkan hasil yang lebih memuaskan. Nothing is impossible. Memang berat, tapi tidak mustahil.

Jadi aku memilih jurusan Sastra Jepang di Universitas Indonesia di SNMPTN, dan, secara tidak mengejutkan, gagal. Aku mengambil jurusan yang sama di PPKB UI, dan sama tidak mengejutkannya, gagal. Meski tidak terkejut, aku tetap sempat merasa takut. Bagaimana kalau aku gagal di SBMPTN juga? Aku bahkan sempat panik dan berusaha mencari alternatif terakhir, seperti mendaftar beberapa jalur masuk mandiri dengan jurusan yang sebenarnya tidak benar-benar aku minati, namun dengan peluang diterima yang lebih besar. Aku jadikan SBMPTN sebagai jembatan terakhir menuju Sastra Jepang UI. Kalau yang ini tidak berhasil, I'll go anywhere.

Beruntungnya, aku diterima melalui SBMPTN dan secara resmi masuk sebagai mahasiswi Sastra Jepang Universitas Indonesia angkatan 2017.

Namun kenapa harus Sastra Jepang dan kenapa Universitas Indonesia?




Banyak orang memilih jurusan berdasarkan pekerjaan yang mereka inginkan di masa depan. Yang ingin menjadi dokter atau pengacara otomatis akan memilih Fakultas Kedokteran atau Fakultas Hukum. Namun aku sebenarnya lebih memikirkan tentang apa yang akan aku pelajari dan dapatkan selama kuliah. Aku tipe yang gampang bosan, dan sebenarnya sudah lama lelah dengan rutinitas sekolah. Bukan tipe murid teladan yang selalu mengisi daftar presensi dengan sempurna dan selalu mengerjakan tugas jauh sebelum tenggat waktu pengumpulan. Jujur, sama sekali bukan. Namun untuk mengatakan bahwa aku tipe yang malas belajar dan tidak peduli dengan nilai akademis juga salah. Meski sampai sekarang masih menganggap bahwa sistem pendidikan di Indonesia 'tidak seru', aku sebenarnya sangat suka mempelajari hal yang baru. Itulah yang mendorongku untuk memutuskan jurusan kuliah bukan berdasarkan pekerjaan apa yang aku mau, tapi dari mata kuliah apa saja yang paling membuatku tertarik. Logikanya adalah jika tiba-tiba di tengah jalan aku mulai lelah kuliah (yang terjadi lebih sering daripada yang kalian duga), akan ada sesuatu yang bisa menarikku agar kembali bersemangat.

Sastra Jepang dipilih karena daftar mata kuliahnya membuatku tertarik, dan Universitas Indonesia dipilih karena lingkungannya menurutku menarik (banyak tempat di UI yang bisa menjadi penghilang jenuh, seperti danau dan area hutannya). Mungkin terdengar dangkal bagi sebagian besar orang, tapi itu adalah alasan utama aku memilih Sastra Jepang UI. Tentu saja ada alasan-alasan lain, seperti aku memang tertarik untuk mempelajari kebudayaan Jepang, dan karena biaya kuliah di UI sebenarnya lebih murah dari universitas-universitas lain di Indonesia (meskipun biaya hidupnya memang agak di atas standar).




Untuk kalian yang baru akan lulus SMA dan hendak memilih jurusan, saranku adalah pertimbangkan dengan matang apa yang akan menjadi rencana empat tahunmu ke depan. Kamu harus punya alasan untuk memilih jurusan, alasan untuk bertahan di jurusan yang kamu pilih bila seandainya tiba-tiba merasa down (yang pasti akan terjadi sepanjang pengalaman berkuliah), dan paling tidak gambaran besar  mengenai apa yang ingin dan tidak ingin kamu lakukan. Kalau misalnya nanti kalian berubah pikiran, merasa salah jurusan, atau tidak merasa cocok dengan universitas yang kamu pilih, it's okay. Selalu ada kesempatan kedua. Namun untuk saat ini, pikirkan hal terbaik yang bisa kamu lakukan untuk dirimu sendiri, karena yang akan menjalani dunia perkuliahan adalah kamu.

Comments

ZCuneAoi said…
Mirip banget sama keadaan aku sekarang. Dulu ragu mau masuk jurusan sastra Jepang dan berakhir memilih jurusan yang tidak disukai tapi peluang masuknya tinggi. Setelah diterima aku mulai merenung tentang bagaimana aku bisa menjalani perkuliahan selama 4 tahun jika aku sendiri tidak memiliki minat untuk mendalami pelajaran tersebut. Pada akhirnya aku nolak perguruan tinggi negri itu dan gap year untuk masuk jurusan Sastra Jepang. Semoga bisa bertemu disana

Adsterra

Popular Posts