matahari masih bersinar


Dua puluh lima hari setelah kau pergi, aku menengadah dan dibutakan oleh matahari. Langit rasanya tidak pernah secerah ini dalam beberapa minggu terakhir. Jika kau menuduh bahwa duka telah membuat pandanganku kabur, aku akan terpaksa membantah. Ini fakta: langit belum pernah secerah ini sebelumnya.

Kau mungkin ingat apa yang sering kukatakan setelah memakai kacamata baru, bagaimana pemandangan di sekelilingku berubah jelas, seolah-olah selama ini aku membuka mata tanpa benar-benar melihat. Bagaimana warna bisa menjadi tajam, seolah-olah ada garis yang ditambahkan untuk memisahkan setiap perubahan gradasi. Kurang lebih, hari seperti itu yang tengah kujumpai. Dua puluh lima hari setelah kau pergi, aku menengadah, dan meski aku tidak percaya aku bisa menemukanmu di atas sana, separuh hatiku berharap.

Akhir-akhir ini, semua puisi yang kutulis mengambil kepingan kenangan tentang dirimu, mengisi nostalgia dengan lebih dari sekadar kata rindu. Aku tidak pernah rindu, terutama tidak kepadamu. Terutama tidak ketika aku berada jauh dari tempat yang pernah kita sebut milik berdua. (Kau dengar kebohongan? Ada lebih dari satu kutulis dalam bait ini. Jika kau masih ada, kau akan sadar. Tidak ada orang yang lebih mengenalku daripada dirimu.)

Bagiku, kepergianmu merampas. Ada satu zona yang kusisakan kosong untukmu, kuisi dengan tekad melanjutkan hidup yang kudapat darimu. Kemudian kau pergi, dan kekosongannya tidak lagi memiliki pemilik. Aku perlu belajar bertahan hidup lagi. Aku perlu belajar melangkahkan kaki sendirian lagi. Dan, oh, aku akan belajar (kau tahu betapa takutnya aku pada kehampaan). Aku hanya tidak tahu dahan mana yang perlu kuraih sebelum aku kembali tersandung. (Kau akan bilang: biarkanlah dirimu jatuh.)

Hari ini dua puluh lima hari setelah kau pergi. Kukatakan, aku baik-baik saja. Duniaku masih sama; retak, tapi masih tegak. Warnanya berubah karena kini kau harus melihatnya dari sudut yang berbeda. Aku tidak tahu kau di mana. Aku tidak percaya aku bisa menemukanmu di atas sana, bahkan di saat langit sedang cerah. Bisikanmu masih sama pula: lihat ke langit.

Aku menengadah, lalu dibutakan oleh matahari. Katamu selalu: tidak pernah ada jalan buntu.

Depok, 16 November 2018

Comments

Adsterra

Popular Posts