Review Book: Victoria Aveyard - King's Cage (Red Queen #3)

king's cage
“I’m not a fool, little lightning girl. If you’re going to play in my head, I’m going to play in yours. It’s what we’re good at.”
—Maven.
Kembali dalam sangkar. Kembali dalam tawanan. Kembali memasang topeng dan berpura-pura.
Ketika tentara Maven dan klan Samos berhasil menjebak serta membawanya kembali ke istana, Mare mengira riwayat hidupnya sudah tamat. Namun yang ditemuinya di sana justru adalah pintu-pintu kesempatan dan informasi yang tidak bisa ia bayangkan sebelumnya, juga rahasia mendalam yang menjadi inti dari kekosongan jiwa Maven, sang raja yang duduk di atas singgasana bersimbah darah.



King’s Cage langsung membuka bab dengan melanjutkan peristiwa yang terjadi di akhir buku kedua: penangkapan Mare. Terenggutnya sang simbol dari pemberontakan ini dikira oleh kaum Silver akan meredakan aksi-aksi militer Scarlet Guard, namun mereka tidak tahu bahwa Mare sesungguhnya bukanlah orang terpenting di dalam organisasi ini. Seperti juga kenyataan bahwa kerajaan mereka bukanlah satu-satunya kerajaan yang berpengaruh di dunia.
“You ask me how much of it was me. Some. Enough.”
—Maven
Jika Red Queen berisi banyak aksi menegangkan, Glass Sword mengenai perjalanan perekrutan para newblood, maka King’s Cage adalah tentang politik dan sejarah. Dengan keberadaan Mare begitu dekat dengan Maven dan para bangsawan Silver, ia jadi tahu lebih banyak mengenai apa yang sedang dilakukan Maven demi mempertahankan tahtanya, terutama di bidang politik dan negosiasi, yang merupakan kelebihan terbesar sang raja muda. Tidak hanya hubungan Maven dengan para bangsawan di bawahnya, tetapi juga ikatan yang hendak ia jalin dengan kerajaan-kerajaan tetangga.
Berada di sisi Maven, tentu saja, juga membuka jalan bagi Mare untuk melihat lebih dekat celah-celah dalam kepribadian bengis sang raja. Setengah bagian awal dari King’s Cage memang didedikasikan untuk mengenal lebih mendalam tokoh Maven, yang selama buku kedua jarang sekali muncul. Bagi fans berat, buku ini mungkin akan menjadi favorit kalian. You will get so much of Maven that you hope this book will never end.
Lalu, jika Mare berada di istana di bawah pengawasan para kaum Silver, bagaimana kita bisa tahu apa yang tengah terjadi di antara Scarlet Guard sendiri? Nah, di buku ketiga ini, Victoria Aveyard tidak hanya menulis dalam sudut pandang Mare saja, tetapi juga sudut pandang Cameron. Melalui Cameron, kita bisa mengetahui suasana di sisi Scarlet Guard, juga perspektif baru terhadap hal-hal tertentu yang mungkin tidak akan bisa kita dapat jika diceritakan dalam sudut pandang Mare.
Namun selain sudut pandang Cameron, Victoria Aveyard juga menyuguhkan satu sudut pandang istimewa lagi, yaitu milik Evangeline. Ya, Anda tidak salah baca. Evangeline Samos: mantan tunangan Cal, yang sekarang menjadi tunangan Maven. Evangeline Samos: sang calon ratu. Evangeline Samos, yang baik di buku pertama dan buku kedua selalu digambarkan Victoria Aveyard sebagai antagonis dalam kisah ini.
Bisa dibilang, selain pendalaman karakterisasi Maven, sudut pandang Evangeline adalah hal favorit saya dalam buku ketiga ini. Suara Evangeline memberi warna baru dalam narasi serial Red Queen. Suara Evangeline jugalah yang kemudian membuat saya menjadikan dirinya sebagai salah satu tokoh favorit saya karena damn, girlyou’re the best thing ever happened in this series.
“We will not break, and we will no longer bend.”
—Evangeline
Di sisi lain, saya tidak terlalu menyukai sudut pandang Cameron. Saya merasa Victoria Aveyard memilih tokoh yang salah untuk menggambarkan kegiatan Scarlet Guard, terutama karena Cameron sedikit banyak memiliki sifat serupa dengan Mare. Akan lebih menarik jika Victoria Aveyard menggunakan sudut pandang Farley atau Cal dalam hal ini, atau bahkan salah satu dari para newblood yang sama sekali tidak pernah mendapatkan pendalaman karakter yang pantas.
Alasan lain mengapa saya menginginkan sudut pandang Cal adalah karena dibandingkan dengan tokoh-tokoh utama lain, Cal serasa tidak mengalami perubahan apapun sejak buku pertama. Ia masihlah seorang pangeran yang belum bisa mengambil keputusan juga tidak tahu caranya menyusun prioritas—terus bimbang di antara dua pilihan yang bertolak belakang: Mare, atau tahta yang menjadi haknya semenjak lahir. Namun ketika sampai di akhir buku ketiga, saya akhirnya tahu apa yang membuat Victoria Aveyard nampaknya enggan memberikan pengembangan karakter bagi Cal. So, guys, be prepared for a big surprise.



Soal plot, saya merasa sedikit kecewa. Buku ketiga ini terasa benar-benar memukau di awal (mungkin karena tokoh favorit saya adalah Maven) dan saya kesulitan untuk berhenti membaca. Namun begitu mencapai pertengahan, Victoria Aveyard seolah kehilangan arah untuk meneruskan cerita. Banyak bagian yang terpaksa saya lompati karena saya rasa tidak terlalu signifikan dan tidak menarik. Kemudian ada juga sejumlah karakter baru yang diperkenalkan begitu jauh di akhir sehingga saya kesulitan untuk mengenali mereka satu per satu. Meskipun lagi-lagi kita disuguhkan ending mencengangkan, mau tidak mau saya merasa tidak puas. Terutama karena buku ketiga—King’s Cage—ini pada mulanya direncanakan untuk menjadi buku terakhir dari serial Red Queen, namun ternyata masih berlanjut ke buku keempat. You shouldn’t do this to your readers, Victoria Aveyard, we have suffered enough waiting for King’s Cage.
“I kiss him for what could be, what might be, what will be—the last time. His lips feel strangely cold as we both turn to ice.”
—Mare
Dari ketiga buku Red Queen yang sudah terbit, buku ini mungkin menjadi buku terfavorit sekaligus yang paling kurang saya sukai. Bisa dibilang, keberadaan Maven dan Evangeline benar-benar menjadi penyelamat, karena jika tidak, kemungkinan besar saya tidak berminat untuk melanjutkan ke buku berikutnya. Saya berharap Victoria Aveyard akan memberi lebih banyak porsi kepada mereka di buku selanjutnya, sekaligus memberikan Cal karakter yang lebih mendalam. And the best ending, because we have suffered long enough.

Dua setengah bintang.

Comments

Adsterra

Popular Posts