Review Book: Enid Blyton - Memburu Kereta Api Hantu (Lima Sekawan #7)
Enid Blyton: Memburu Kereta Api Hantu (Lima Sekawan #7)


DESCRIPTION:
Title: Memburu Kereta Api Hantu
Original Title: Five Go Off To Camp
Type: 256 hlm; 18 cm
Author: Enid Blyton
Date published: 1980, by Gramedia Pustaka Utama
Original Title: Five Go Off To Camp
Type: 256 hlm; 18 cm
Author: Enid Blyton
Date published: 1980, by Gramedia Pustaka Utama
Lima Sekawan pergi berkemah sebuah bukit yang dilewati terowongan rel kereta api. Salah satu jalur terowongan itu disegel dan tidak digunakan lagi. Akan tetapi, tersiar kabar bahwa sering ada kereta api hantu yang melewati jalur tersebut dan kemudian menghilang dalam kegelapan. Ke manakah perginya?
Jika boleh jujur, saya agak kecewa dengan seri buku Lima Sekawan yang satu ini. Plotnya monoton dan kurang menyuguhkan misteri. Penjahat dan motif yang dimilikinya sudah bisa ditebak dari awal. Cara Lima Sekawan membongkar kasus lebih bergantung pada kebetulan daripada kemampuan dan kecerdikan mereka sendiri.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Buku kali ini sebenarnya menyuguhkan konflik yang sempat memecah belah Lima Sekawan. Jika disajikan dengan lebih baik, mungkin akan bisa menjadi titik krusial dalam memahami karakter masing-masing anak. Namun yang ada, saya malah dikecewakan oleh opini Enid Blyton terhadap kesetaraan gender. Saya sepenuhnya sadar bahwa pada 1948 (tahun diterbitkannya buku ini di Inggris), emansipasi wanita belum benar-benar diakui. Namun saya mengira, dengan keberadaan George yang selalu dikatakan ‘sama tangguhnya dengan anak laki-laki’ merupakan tanda bahwa Enid Blyton menganggap bahwa tidak semua anak perempuan harus menjadi seperti Anne yang keibuan dan manis.
No, I don’t hate Anne. In fact, I cherish her for standing up despite her fear. Saya juga menyukai tindakan George yang menolak untuk dilindungi selayaknya anak perempuan lain. She’s stubborn, but this time, she is stubborn for the right reason. Di sisi lain, untuk pertama kalinya, saya mengkritik kepemimpinan Julian. Ia terlalu bossy dan meremehkan keinginan George untuk ikut serta dalam petualangan mereka. In my opinion, he needs to remember that he’s there to ensure their safety by always being there for them instead of leaving them blinded. Ada cara lain untuk melindungi kedua anak perempuan itu. Alih-alih meninggalkan George di kemah dengan Anne, mengapa bukan mereka bertiga (George, Julian, dan Dick) yang bergantian tinggal di kemah untuk menemani Anne? Dengan begitu, konflik di antara mereka bisa terselesaikan dengan mudah.
All in all, definitely my least favourite book in the series so far. I give it one star.
Comments