Review Book: Haruki Murakami - Norwegian Wood
Haruki Murakami:
Norwegian Wood

Di antara Toru dan Naoko, ada mendiang Kizuki yang
menjadi penghubung. Kematiannya memicu banyak perubahan dalam kehidupan sang
sahabat (Toru) dan sang kekasih (Naoko).
Tidak memiliki tempat lain untuk
bersandar, kedua orang yang tertinggal itu akhirnya terpaksa mencari
perlindungan pada satu sama lain. Namun sementara Naoko perlahan mulai menutup
hatinya, Toru justru ditarik keluar oleh semangat dan kepribadian liberal seorang
gadis bernama Midori.
Bent and twisted as it
might be, I did love her.
--Toru
--Toru
“Norwegian Wood” adalah sebuah kisah cinta yang muram dan
penuh pengorbanan milik seorang pemuda berusia di awal dua puluhan. Kisah cinta
yang membingungkan tetapi juga mengharukan. Membuat depresi tetapi juga memberi
harapan. Erotic, but also beautifully
twisted.
Menulis resensi tentang buku ini adalah hal yang sulit. Kontradiksi
terus-menerus saya temui. Tidak ada kata yang bisa benar-benar menggambarkan
karya Haruki Murakami yang satu ini. It’s
amazing, but at the same time just ordinary.
It’s beautiful, but also twisted
and cruel in its own way. It feels otherwordly, but many things it has hit too
close to home. Distant, but also familiar.
Plot “Norwegian Wood” adalah sesuatu yang sederhana,
namun diiringi dengan kemampuan Haruki Murakami dalam mengolah kata,
menjadikannya sangat nyaman untuk dinikmati. Karakternya, di lain pihak, adalah
serangkaian enigma.
What makes us most
normal is knowing that we’re not normal.
--Reiko
--Reiko
Hal yang paling menonjol dari novel ini adalah eksistensi
mental disorder dan traumatic experience yang dimiliki oleh
tiap-tiap tokohnya. Setiap karakter memiliki masalah masing-masing, yang
sebagian besar dikisahkan melalui dialog dengan tokoh utama.
Beberapa terselesaikan,
sebagian menemui akhir tragis, dan sisanya masih tak menemukan jawaban atau
berada di luar jangkaun tokoh utama untuk diketahui lebih lanjut kisahnya.
Merupakan
hal yang penuh risiko untuk menjalin sebuah kisah yang mayoritas tokohnya diisi
oleh orang-orang “abnormal”—sebagaimana mereka sendiri menyebutnya. Jepang di
era tersebut kemungkinan tidak bisa menerimanya dengan mudah.
Bahkan masyarakat
di masa sekarang masih sering memandang depresi sebelah mata. Mungkin itulah
penyebab buku ini menjadi kontroversi: banyak orang yang tidak mengerti
menganggapnya bernuansa terlalu fiktif, dan di satu sisi banyak yang bersimpati
dan menemukan teman melaluinya.
Ada juga alasan lain: scene-scene erotis dan bahasa vulgar yang digunakan dalam novel
ini.
Saya tidak tahu pasti apa yang ingin disampaikan Haruki
Murakami melalui novel ini. Namun yang pasti, novel ini bermakna lebih dari
sekadar cerita. This book is not meant to
entertain. Therefore, I don’t think it is right for me to rate how good this
book for entertainment.
All I can say is that I enjoyed it. It’s really
meaningful. Lima atau sepuluh tahun lagi, ketika pemikiran saya sudah jauh
lebih matang dari sekarang, persepsi saya tentang buku ini mungkin akan
berubah. Namun fakta satu ini masih akan bertahan sampai saat itu, saya yakin.
This book is
meaningful.
Bagi yang tertarik untuk membaca sendiri novel Norwegian Wood karya Haruki Murakami ini, bisa dibeli versi bahasa Indonesianya di Gramedia Official Store atau versi Inggrisnya di Periplus Official Bookstore dan Books&Beyond.
Comments