Review Book: Victoria Aveyard - Red Queen

DESCRIPTION:
Title: Red Queen
Genre: Romance, Fantasy
Book: 1 of 3
Author: Victoria Aveyard
Pages: 388 pages
Published: February 10, 2015
Series: Red Queen #1
Victoria Aveyard - Red Queen

"In school, we learned about the world before ours, about the angels and gods that lived in the sky, ruling the earth with kind and loving hands. Some say those are just stories, but I don’t believe that. The gods rule us still. They have come down from the stars. And they are no longer kind."
Dunia Mare diwarnai dengan diskriminasi. Sementara Kaum Perak dengan kekuatan supranatural memimpin kerajaan dan menikmati kehidupan mewah, Kaum Merah yang adalah manusia biasa terpaksa menerima penindasan dan penderitaan. Banyak peraturan ciptaan Kaum Perak yang sangat merugikan Kaum Merah, seperti kewajiban bagi Kaum Merah yang telah cukup umur dan tidak memiliki pekerjaan untuk bergabung dengan prajurit garis depan dan bertarung di medan perang melawan Kaum Perak dari kerajaan lain.
Mare berusaha mencari jalan untuk menghindari panggilan menjadi prajurit. Tak disangka, seorang asing membantunya mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan untuk salah satu keluarga bangsawan Kaum Perak. Namun di hari pertamanya bekerja, sebuah kecelakaan mengungkap fakta yang tidak Mare ketahui sebelumnya: meskipun ia berdarah merah, ternyata ia memiliki kekuatan yang setara atau bahkan lebih kuat dari orang-orang berdarah perak.
Demi menyembunyikan anomali tersebut, Ratu Perak pun memaksa Mare untuk berpura-pura menjadi bagian dari komunitas Kaum Perak dan, dengan kata lain, mengkhianati kaumnya sendiri.



Red Queen” memiliki banyak kemiripan dengan “The Selection”, “Hunger Games”, dan “Divergent”. Keempat novel tersebut sama-sama mengangkat tema pemberontakan dan diskriminasi. Sayangnya, jika dibandingkan dengan “Hunger Games” atau “Divergent”, kisah ini masih kurang matang diolah. Karakter Mare dan motif kebenciannya terhadap Kaum Perak kurang dalam digali. Tindakannya seringkali ceroboh, naif, dan terlalu emosional. Sebagai karakter wanita yang merupakan ikon pemberontakan, Mare Barrow masih belum bisa disetarakan dengan Katniss Everdeen atau Beatrice Prior. Sementara itu, tokoh-tokoh pendukung yang sebenarnya memiliki potensi lebih besar darinya tidak mendapatkan eksplorasi yang cukup. Alur cerita dalam novel ini juga terlalu mainstream dan gampang ditebak.
Terlepas dari kekurangan-kekurangan yang telah disebutkan, sebenarnya “Red Queen” memiliki potensi untuk menjadi salah satu novel fiksi terbaik. Ide ceritanya cukup menarik. Karakter-karakter pendukung juga bisa digali lebih dalam lagi untuk membantu menggerakkan cerita. Victoria Aveyard, penulis novel ini, juga melakukan pekerjaan bagus dalam akhir buku satu, menyajikan cliffhanger yang mau tidak mau pasti akan menarik pembaca ke buku selanjutnya.
Sebagai kesimpulan, novel karya Victoria Aveyard ini menghadirkan kisah yang penuh potensial meski masih memiliki banyak hal yang perlu diperbaiki. Penggemar “The Selection” kemungkinan besar akan menyukai serial tiga buku ini dan bagi yang merindukan atmosfer sejenis “Hunger Games” atau “Divergent”, tidak ada salahnya untuk mencoba membaca “Red Queen” saat ini juga.

Comments

Adsterra

Popular Posts