Review Manga: Yoshikawa Miki - Yamada-kun to 7-nin no Majo
DESCRIPTION:
Title: Yamada-kun and the Seven
Witches/Yamada-kun to 7-nin no Majo (山田くんと7人の魔女)
Type: Manga
Volumes: 28
Chapters: 246
Status: Finished
Published: Feb 22, 2012 to Feb 22, 2017
Genre: Comedy, Mystery, Romance, School, Shounen, Harem, Supernatural
Author: Yoshikawa Miki
Serialization: Shounen Magazine (Weekly)
Type: Manga
Volumes: 28
Chapters: 246
Status: Finished
Published: Feb 22, 2012 to Feb 22, 2017
Genre: Comedy, Mystery, Romance, School, Shounen, Harem, Supernatural
Author: Yoshikawa Miki
Serialization: Shounen Magazine (Weekly)
“You might be able to erase memories. But you can’t erase the feelings behind them.”
—Yamazaki Haruna, “Yamada-kun to 7-nin no Majo”
Yamada-kun to 7-nin no Majo masih menjadi
satu-satunya manga bertemakan harem yang saya baca hingga selesai. Fakta
tersebut saja sudah menunjukkan betapa berartinya serial satu ini untuk saya. Buah
karya Yoshikawa Miki ini meninggalkan banyak kesan bagi saya selama perjalanan panjang
mengikuti kisahnya. Perlu diketahui bahwa saya, bisa dibilang, adalah seorang harem hater. Menyelesaikan manga ini merupakan kejutan yang besar,
terutama karena sudah berulangkali saya hampir meninggalkan serial ini
disebabkan oleh kontennya yang tidak serasi dengan preferensi saya. Namun berulangkali
juga, saya kembali melajutkan membaca, karena Yamada-kun to 7-nin no Majo bukanlah serial yang bisa begitu saja
saya tinggalkan. Tiap kali, saya tergerak oleh kemahiran Yoshikawa Miki dalam
mengakhiri sebuah chapter hingga
selalu berhasil membuat pembacanya menginginkan lebih dan lebih, tak peduli
betapa kerasnya mereka mencoba untuk berhenti.
Di chapter awal serial ini, Yamada Ryuu dan Shiraishi Urara, dua murid
SMA yang memiliki perbedaan karakter mencolok, untuk pertama kalinya bersilang
jalan. Yamada adalah seorang berandalan, siswa yang paling ditakuti di sekolah
mereka dan selalu berada di ranking terbawah dalam hal akademis. Sebaliknya,
Shiraishi adalah siswa terbaik di sekolah tersebut, pendiam dan tidak memiliki
banyak teman, dikagumi sekaligus dibenci banyak orang karena kecerdasan dan
sikapnya yang selalu acuh tak acuh terhadap orang lain. Tidak ada kesamaan
antara Yamada dan Shiraishi, juga tidak ada hal khusus yang bisa menarik mereka
akan satu sama lain. Namun suatu hari, karena sebuah kecelakaan kecil, Yamada
tersandung di tangga dan menabrak Shiraishi, dan kemudian tanpa sengaja mencium
gadis itu.
Ketika Yamada membuka
mata, ia telah berada di ruang UKS. Dan saat ia melihat ke dalam cermin, yang
dilihatnya bukanlah dirinya sendiri melainkan refleksi dari Shiraishi Urara. And that’s how the conflict starts.
Melalui banyak kejadian
aneh dan lucu, juga serangkaian momen mengharukan, Yamada dan Shiraishi
akhirnya mengetahui akan rahasia tentang sekolah mereka—yaitu keberadaan tujuh
penyihir wanita dengan kemampuan khusus. Salah satu dari penyihir itu adalah
Shiraishi, yang memiliki kemampuan untuk bertukar tubuh dengan orang yang
diciumnya. Mereka juga mengetahui bahwa kemampuan setiap penyihir hanya bisa
diaktifkan dengan ciuman. Namun tak hanya itu, ternyata OSIS SMA mereka secara
khusus memiliki tugas untuk melacak tiap penyihir yang ada di sekolah mereka. Dari
situlah, serial manga ini berkembang
menjadi sebuah kisah panjang yang berakhir di chapter 243.
Yang saya sukai dari Yamada-kun to 7-nin no Majo adalah
karakter-karakternya yang unik dan masing-masing memiliki background story yang akan satu-persatu dikuak. Tempo cerita
berlangsung cepat dan seru, diiringi konflik yang senantiasa membuat saya
penasaran. Namun selepas dua konflik utama pertama (sekitar 150 chapter terlewat), Yoshikawa Miki seakan
kehabisan ide untuk membuat kisah ini terus berjalan. Plot yang sama
terus-menerus diulang, dan para karakter tidak lagi menunjukkan perkembangan. Humor
juga bersifat repetitive sehingga
terkesan membosankan dan kurang menarik. Di titik itulah saya sempat
meninggalkan serial ini untuk beberapa saat.
But I come back, and I don’t regret it. Arc terakhir dari Yamada-kun to 7-nin no Majo mungkin
bukanlah arc terbaik dalam serialnya,
tapi merupakan penutup yang cukup memuaskan bagi saya. Saya kembali untuk
Shiraishi dan hubungannya dengan Yamada yang benar-benar menghangatkan hati. Seperti
yang saya isyaratkan di awal, jika Yamada-kun
to 7-nin no Majo adalah manga harem
biasa, mungkin saya takkan pernah menyelesaikan serial ini. But it’s not. It’s more than a harem manga, so I come back and stay
until the end. Bagi para pembaca yang sempat meninggalkan serial ini untuk
alasan yang sama (plot yang diulang, tak ada pembaharuan humor, dan tendesi harem) tak ada salahnya untuk kembali
lagi dan membaca serial ini sampai selesai. Bisa jadi, kalian akan mengubah
pikiran kalian tentang serial satu ini.
Comments