Review Book: Y. B. Mangunwijaya - Burung-burung Manyar
DESCRIPTION:
Title:
Burung-burung
Manyar (The Weaverbirds)
Type:
Novel
Date
released: 1981
Author:
Y. B. Mangunwijaya
ISBN:
9794285285
Characters:
Setadewa (Teto), Larasati (Atik)
Length: 320 pages
Award: South East Asia Write Award (1983), Ramon Magsasay Award
(1996)
Ini bisa jadi sebuah
kisah cinta, tapi tak diawali dengan cinta, juga tak selamanya berisi romansa. Burung-burung
Manyar adalah sebuah kisah tentang kehidupan dua orang anak muda Indonesia
yang lahir di era penjajahan, mendekati pecahnya Perang Dunia II. Keduanya punya
latar belakang yang saling bersilang jalan, tapi juga demikian bertolak
belakang. Teto (Setadewa) adalah seorang
blasteran (ayahnya masih punya ikatan dengan Keraton Surakarta sementara ibunya
adalah seorang berdarah Belanda), sementara Atik masih memiliki hubungan darah dengan keluarga bangsawan
Keraton Surakarta. Semasa kecil, keduanya sering bertemu, menjadi akrab, tapi
kemudian mendadak terpisahkan tanpa kabar. Selama perpisahan itu, keduanya
tumbuh menjadi pribadi yang benar-benar berbeda. Teto mengikuti jejak ayahnya
untuk bergabung dengan tentara KNIL dan membela Belanda, sementara Atik dengan
berapi-api memilih berjuang sebagai asisten Sutan Syahrir untuk memihak
kemerdekaan Indonesia.
“Inilah kesalahan logika mereka: menyangka seolah negara sama dengan rakyat. Jika negara merdeka, orang mengira rakyat otomatis merdeka juga. Nonsense.”
—Teto
Y. B. Mangunwijaya
membangun sebuah dunia yang nyata dalam novel ini, menjadikannya sebagai sebuah
karya sastra yang patut dibaca dan selamanya
harus dikenang. Karakter yang ditiupkannya pada setiap tokoh hidup dan
memiliki emosinya masing-masing, menuliskan sebuah jalan cerita yang kiranya
bisa menjadi realitas dalam kehidupan pada masa itu. Dengan terampil, Y. B.
Mangunwijaya membuat pembacanya jatuh hati dan bersimpati pada kedua tokoh
utama, tak peduli pihak mana yang mereka pilih dalam perang. Sejarah Indonesia
diuntai dengan rapi, melengkapi kisah ini, menyelipkan setiap-setiap pikiran
sang penulis yang, pada era diterbitkannya novel ini, dianggap kontroversial.
“Kalau Indonesia
merdeka, negara kita tidak akan kejam.”
—Atik
Y. B. Mangunwijaya
dikenal dengan gaya bahasanya yang unik, bahkan untuk masa itu. Terbukti dari
sedikit kesulitan yang saya alami selama membaca novelnya. Meski begitu, gaya
bercerita yang anti-mainstream ini
akan sangat bermanfaat bagi pembaca yang berkeinginan untuk menguasai lebih
banyak kosakata, baik dalam bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia.
“Ya, ia memimpin
seperti Alam Raya ini. Tanpa kata. Seperti karakter. Dengan pengertian. Dengan kekuatan,
apa katamu dulu? Dengan jati diri
dan bahasa citra.”
—Teto
Yang tersimpan dalam
novel ini bukan hanya semangat perjuangan atau ajakan untuk berpikir lebih
kritis, tapi juga sifat-sifat yang patut diteladani dari para tokohnya, seperti
kemandirian, pengakuan atas setiap kelemahan, dan kekuatan untuk menjadi
dirinya sendiri. Baik Teto maupun Atik merupakan karakter yang kuat, tapi
mereka masing-masing juga mengakui bahwa ada kalanya kekuatan mereka justru
menjadi pemicu timbulnya kelemahan mereka. Nothing
is perfect adalah ungkapan yang mereka pahami dan deskripsikan dengan baik.
Lewat novel ini, saya menemukan banyak hal untuk dipikirkan kembali dari hidup
saya. Saya belajar dari Atik dan Teto tentang menjadi seorang manusia, tentang
kapan untuk menerima takdir dan kapan untuk memperjuangkannya.