Puisi: Dari yang Terjebak dalam Senja
Bila tulangmu meluruh
jadi abu,
takkan kukubur,
‘kan kutebar hingga terbang disambut angin pelipur
Merangsek kanopi hutan,
menggurat hitam pada mega belum bernama
Sumpahku aku takkan lupa
takkan kubiarkan alam lupa
takkan kubiarkan namamu buyar ditelan masa
takkan kukubur,
‘kan kutebar hingga terbang disambut angin pelipur
Merangsek kanopi hutan,
menggurat hitam pada mega belum bernama
Sumpahku aku takkan lupa
takkan kubiarkan alam lupa
takkan kubiarkan namamu buyar ditelan masa
Bahkan mentari menyimpan satu berkas dirimu dalam hangat sinarnya
Jika remang mencuri cahaya, sosokmu hadir menipu realita
Jika aku berpura-pura buta, manifestasimu berubah luar biasa nyata
Jiwaku dengan angkuh berkata: “Kau takkan mampu lupa.”
Maka biarlah abumu
mengarungi angkasa
menyapa dengan sayap-sayap tak kasat mata
Ringan, laksana terlepas semua beban
tak sadar bahwa jari-jariku terentang
haus akan keberadaan
lapar akan kebersamaan
dan benci,
ah, tak terkira benci,
pada batas hidup-mati
pada benar yang kuharap hanya ilusi
menyapa dengan sayap-sayap tak kasat mata
Ringan, laksana terlepas semua beban
tak sadar bahwa jari-jariku terentang
haus akan keberadaan
lapar akan kebersamaan
dan benci,
ah, tak terkira benci,
pada batas hidup-mati
pada benar yang kuharap hanya ilusi
Bahkan meski bisikmu
membujuk, menghibur, meminta,
aku tak bersedia lupa.
aku tak bersedia lupa.
(Semarang, 9 Agustus 2016)