Puisi: Bilamana Bisu adalah Namamu
Di ujung jemarimu
tak nampak kulit bersama tinta melebur
bukan juga kasar kayu berparut
atau pun garis gurat putih kapur
tak nampak kulit bersama tinta melebur
bukan juga kasar kayu berparut
atau pun garis gurat putih kapur
(yang kau dekap di depan jantung)
(yang kau selimuti kain beludru)
(yang kau kecup tiap senja berlalu)
adalah denting nada mengalun
Baris katamu tak terucap oleh mulut
terganti oleh tuts-tuts yang tak pernah kau biarkan berdebu
Deras emosimu tak terangkai oleh serak pita suara
namun terwakili potongan melodi menyibak awan yang terus berarak
terganti oleh tuts-tuts yang tak pernah kau biarkan berdebu
Deras emosimu tak terangkai oleh serak pita suara
namun terwakili potongan melodi menyibak awan yang terus berarak
Kau ada dalam partitur
itu hidupmu; itu duniamu; itu adalah dirimu
Kau tersusun dalam simbol-simbol lagu
itu hatimu; itu jiwamu; itu adalah semestamu
Namun jika kurenggut itu semua darimu
masihkah kau ‘kan meraba-raba mencari kembali jati diri terbuang itu?
Kau tersusun dalam simbol-simbol lagu
itu hatimu; itu jiwamu; itu adalah semestamu
Namun jika kurenggut itu semua darimu
masihkah kau ‘kan meraba-raba mencari kembali jati diri terbuang itu?
Sragen, 5 September 2016