Puisi: in dark, there is fire
![]() |
Source: https://static.zerochan.net/Suzu.%28pixiv.Id.2720375%29.full.931878.jpg |
Hatiku yang mati ini pernah hidup; pernah buta dan pernah tuli, begitu egois dan tanpa belas kasih. Disiram pijar masa kanak-kanak dan direngkuh angin dari kahyangan. Hatiku yang mati ini pernah hidup, tapi tidak lagi. Masih buta, masih tulis, masih egois, dan tanpa belas kasih, namun telah lepas dari sinar kebahagiaan dan sepoi surgawi Batara Bayu.
Hatiku yang mati ini
tidak menginginkan apapun, tinggal daging berdegup yang terus berdetak tanpa
hati, sudah tak mampu lagi mengecap bibit dari keserakahan. Hatiku yang mati
ini telah lelah hidup, meski enggan membagi napas dengan orang lain. Hatiku
yang mati ini masih terjebak di dunia orang-orang hidup, karena sesungguhnya ia
tidak ingin mati. Namun hatiku ini mati dan tiap degupnya mewakili kegagalanku
untuk menjalani hidup.
Hatiku mati, kau
dengar? Mati. Mati seperti tawa yang
padam sebelum usai. Mati seperti senyum yang pudar sebelum habis. Mati seperti
bayi yang tercekik di antara tangis.
Dan kau bukan pijar,
bukan angin. Takkan mampu menjadikan hembus napas letih ini lebih berarti.
Takkan mampu mengganti degup sekarat ini bersemangat lagi. Kau adalah tawa juga
senyum, tapi euforia-mu tak memiliki makna lebih dari sekedar fenomena. Halusinasi.
Ilusi belaka. Kau adalah manusia dan hatimu merasa; berduka mungkin, karena
aku, tapi tetap membentuk dan menampung emosi fana. Namun hatiku ini—hatiku yang mati ini—telah mati.
Terlalu sulitkah
bagimu untuk memahami?
mitarafortunadow