Review Movie: Control Tower (2011)
DESCRIPTION:
Movie: Control Tower
Romaji: Kanseitou
Japanese: 管制塔
Director: Takahiro Miki
Writer: Takahiro Miki
Producer: Tetsuya Take, Toshimi Fukuda, Tomiji Kajiwara
Cinematographer: Masataka Kato
Release Date: April 9, 2011
REVIEW:
Tidak seperti
film-film pada umumnya yang menampilkan kisah panjang dengan beragam konflik
yang kemudian terselesaikan di akhir ceritanya, Control
Tower lebih seperti sebuah cerita pendek, awal dari sebuah kisah yang
belum menemui akhirnya. Mungkin bagi sebagian orang, film ini akan terasa tidak
memuaskan dan tidak memiliki arti, tapi saya lebih suka menyebutnya sederhana
namun well-directed, sangat
menginspirasi, dan mengandung pendalaman karakter yang cerdas terlepas dari
durasi yang singkat.
Control Tower berfokus sepenuhnya pada Kakeru dan Mii, dua orang yang terisolasi dari lingkungan mereka karena itulah yang mereka pilih untuk diri mereka sendiri. Keduanya menganggap bahwa teman-teman sekelas mereka kekanak-kanakan dan tidak menarik, sementara orang dewasa membosankan dan tidak layak diberi perhatian. Kakeru senang mengenakan earphone kemana-mana, meski sedang tidak mendengarkan lagu, hanya menggunakannya untuk meredam suara-suara di sekitarnya dan sebagai alasan untuk tidak mengacuhkan orang lain. Sementara Mii, yang sering pindah tempat tinggal dan sekolah mengikuti ayahnya yang sedang dikejar penagih hutang, menolak untuk berinteraksi dengan teman-temana sekelasnya, yang kemudian membuatnya dimusuhi oleh anak-anak lain.
Pertemuan mereka
dramatis; Kakeru sedang menghindari kelas dan memutuskan untuk tiduran di aula
sekolah, namun tiba-tiba sebuah pesawat terbang kertas melintas di atas
kepalanya. Ketika ia bangkit untuk memeriksa, dilihatnya Mii berada di lantai
dua, tersenyum padanya. Hubungan yang terjalin di antara mereka kemudian
diprakarsai oleh Mii, yang meski tidak pernah berbicara dengan orang lain di
kelas, ternyata justru sangat cerewet dan tidak pernah menyerah untuk mengajak
Kakeru bicara di luar kelas.
Mii menyukai musik
dan pandai bermain piano, tapi ia tidak memiliki piano di rumah. Lewat ayah
Kakeru, ia berhasil meminjam piano elektrik, lalu mengajak Kakeru untuk
membentuk sebuah band dan mengikuti
kompetisi mencipta lagu orisinal. Mereka menghabiskan lebih banyak waktu
bersama dan mulai berbagi tentang banyak hal. Hubungan keduanya makin dekat.
Di kota mereka, ada
sebuah menara pengawas (control tower)
yang mereka kunjungi suatu hari. Di depan menara tersebut, keduanya
membicarakan keinginan masing-masing; Mii ingin tetap tinggal di satu tempat,
lelah berpindah-pindah mengikuti ayahnya, sementara Kakeru justru merasa iri
pada Mii yang bisa melihat banyak tempat baru, karena ia sendiri tidak akan
pernah bisa meninggalkan kota kelahirannya.
Di akhir kisah, Mii
pindah. Tanpa salam, tanpa perpisahan. Kakeru tetap mengirimkan lagu buatannya
ke kompetisi itu, menyertakan pesan untuk Mii dan lirik yang juga berhubungan
dengan Mii. Meski tak ada informasi apapun yang memberitahu tentang apa yang terjadi
pada mereka selanjutnya, saya merasa puas dengan film satu ini. Film ini
seolah-olah mengatakan, Banyak hal bisa merubah
hidupmu. Bahkan sebuah persahabatan singkat bisa menentukan jadi orang seperti
apa engkau selanjutnya. Bahkan sebuah interaksi sederhana dengan seseorang yang
tidak akan kau temui lagi nantinya bisa menjadi hal paling penting dalam
hidupmu selanjutnya.
Film ini juga, menurut saya, merupakan sebuah film yang membuat saya menyadari betapa bagusnya kemampuan akting Yamazaki Kento sesungguhnya. I've watched several movies featuring him, but this is the first time I really adore his acting. He is incredible in this!
Comments