Review Manga: Hirunaka no Ryuusei (Daytime Shooting Star)
DESCRIPTION:
Tipe: Manga
Volume: 12
Chapter: 86
Status: Tamat
Tanggal
terbit:
20 Mei 2011 s.d. 5 November 2014
Genre: Comedy, Romance, School, Shoujo, Slice of
Life
Pengarang: Yamamori
Mika
Bintang jatuh di siang hari? Bukan mustahil, tapi sangat jarang terjadi. Ketika Yosano Suzume, seorang gadis desa dengan rambut berkepang dua, pindah ke Tokyo, cinta yang datang seperti bintang jatuh adalah hal terakhir yang ia takutkan. Kota metropolitan yang sangat berbeda jauh dari kampung halamannya itu menawarkan culture shock yang membuat usahanya untuk menemukan teman baru menjadi sulit. Namun seorang guru, Shishio Satsuki, membantunya untuk melewati rintangan itu. Dan begitu ia menemukan keberanian, Suzume mulai mengenal Mamura Daiki, teman sebangkunya yang takut pada perempuan, dan Nekoma Yuyuka, gadis bermuka dua yang sempat membencinya tapi kemudian justru menjadi sahabat terbaiknya.
Hirunaka no Ryuusei bermula dengan tema persahabatan, yang juga dapat ditemukan pada Kimi ni Todoke. Namun kisah ringan ini mulai dengan cepat berlanjut pada kisah cinta segitiga antara Shishio, Suzume, dan Mamura, yang kemudian membuat keberadaan teman-teman Suzume menjadi kurang tereksplorasi, meskipun mereka sesungguhnya memiliki karakter yang kuat dan berpotensi untuk digali lebih jauh. Dibandingkan dengan Kimi ni Todoke pula, Hirunaka no Ryuusei memiliki tempo bercerita yang cepat sehingga terkesan terlalu terburu-buru dan kurang menyakinkan dala mendalami chemistry-nya di antara tiga tokoh utama. Yamamori Mika, pengarang Hirunaka no Ryuusei, juga terlalu berfokus pada Suzume dan kisah cintanya, sehingga tokoh utama yang semula memiliki karakter menjanjikan dan cukup refreshing, semakin jauh ke dalam serialnya justru menjadi terkesan sedikit egosentris.
Meski
ada banyak momen yang berhasil menumbuhkan antusias saya, secara keseluruhan,
serial ini lebih seperti serangkaian kejadian yang berjalan secara datar tanpa
pesona apapun. No surprise, no plot twist
whatsoever. Bagi saya, menyelesaikan 12 volume Hirunaka no Ryuusei
merupakan pekerjaan berat, karena saya kerap kali hampir menyerah dan sedikit
lagi menyentuh berbagi titik bosan di sepanjang alurnya. Ketika saya akhirnya mencapai
penyelesaian kisah, tidak ada perasaan puas ataupun kecewa. Mata saya merekam
panel terakhir di halaman terakhir dengan ketenangan yang apatis, dan otomatis
benak saya berkata, “Ah, sudah selesai.” No
expectation ‘cause I know the end won’t matter. I didn’t root for any of them.
Kedewasaan Shishio sebagai orang yang lebih tua perlu dipertanyakan,
pengorbanan Mamura dan kesabarannya dalam menanti perubahan hati Suzume juga
tidak mengusik simpati saya, dan keberadaan Suzume yang begitu naif sama sekali
tidak membantu cerita.
Terlepas
dari kurangnya pendalaman karakter, tempo yang terlalu terburu-buru, dan plot
yang terasa tidak menyatu, Hirunaka no Ryuusei tetap menarik
mata karena ilustrasinya yang above
average dan terus meningkat seiring berjalannya serial. It’s getting better and better, and
truthfully beautiful.
Secara
keseluruhan, saya memberikan skor 7 dari 10. Manga ini direkomendasikan bagi mereka yang hanya menginginkan
bacaan ringan tanpa konflik berat, karakter yang mudah dipahami, dan romansa yang
sederhana tipikal anak SMA.