Flash Fiction: it's always about first

Source: https://static.zerochan.net/Craftghost.full.720897.jpg
 I could give a thousand words and describe you a thousand ways. But in the end, it is very simple. I want you because I love you. No one else. You are the only one. You are my only one.
—George deValier, “Besame Mucho”





Aku melupakanmu berkali-kali. Aku mengingatmu lagi dan lagi. Ada sesuatu yang konstan dalam perasaan mendamba yang tak berani kuungkapkan ini. Ada sesuatu yang tak berubah bahkan setelah bertahun-tahun aku mencoba berpaling.

Aku rabun jauh, hingga dalam mimpi pun, raut muka seseorang tak nampak jelas. Namun aku tahu itu kau, karena siapa lagi kalau bukan kau? Di luar sana bintang berkelip, tanpa henti, dan hatiku yang gundah memaksa benakku sejenak merangkai figurmu pada permukaan langit-langit kamar yang jauh dari jangkauan.

Aku terlalu muda untuk terus terpaku pada satu titik di masa lalu. Tiap kenangan terasa semu, membuatku ingin berlari kembali dan memeriksa satu demi satu emosi yang tersimpan di sana. Apakah nyata? Apakah bukan khayalan? Apakah tanganmu benar-benar pernah ada dalam genggamanku pada suatu masa?

Ah, bagaimana nasibku jika kenangan tentang dirimu ternyata dimiliki oleh ilusi maya? Betapa merasa bodoh aku, merindukan seseorang yang sesungguhnya tak pernah ada dalam memoriku.

Ratusan senja (sanggupkah melebihi kata ‘ribu’?) telah kulalui, dan tak selalu sosokmu terbayang lewat malam yang mengikuti. Lebih sering, aku tak mengingat, terlalu letih dijadikan budak realita. Namun di malam-malam ketika suaramu mengisi alam bawah sadar, momen-momen itulah yang memberitahuku bahwa nampaknya aku akan terjebak untuk waktu yang tak ada batasnya.

Obsesiku padamu disimbolkan oleh sepasang mata elang sang pengawas. Takkan kau dengar kepakan sayapku, terlalu jauh aku terbang di antara mega. Namun kuharap kau tahu aku ada. Paling tidak percayalah bahwa meski sesekali aku akan merasa lelah dan memutuskan untuk kembali ke sarang, eksistensimu dalam mimpiku tidak sepenuhnya memudar. Tidak akan, nampaknya.

Aku tidak ingin menyebutnya cinta karena kau masihlah individu yang terpisah dariku. Kau yang kupandang di antara remang adalah kau yang terus berubah di dunia yang tak bisa kurengkuh hanya dengan sekedar pengharapan. Itu adalah kau yang mungkin tak lagi kukenal. Itu adalah kau yang selalu ingin kukenang.

Jika aku bertemu denganmu lagi di suatu titik di masa depan dan melihat satu sisi darimu yang tidak pernah kuingat, aku percaya bahwa obsesiku padamu kelak tidak akan berubah. Aku masihlah aku, dan kau masih tak tergantikan.

Bahkan bila kiranya bintang mengusirmu dari mimpiku, entah bagaimana aku akan tetap menyusun figurmu di antara pekat malam.

Kau akan terlupakan lagi dan lagi. Aku akan mengingatmu terus berkali-kali. []

Comments

Adsterra

Popular Posts