Review Movie: High☆Speed: Free! Starting Days (2015)

DESCRIPTIONS:

High☆Speed: Free! Starting Days merupakan film animasi yang diproduksi Kyoto Animation, diadaptasi dari novel HighSpeed karya Kouji Ooji, dan merupakan prekuel dari serial anime Free!. Film ini ditayangkan pada tanggal 5 Desember 2015 di bioskop Jepang dan baru dikeluarkan dalam bentuk DVD pada 20 Juli 2016 di Jepang.


PLOT:

HighSpeed: Free! Starting Days terfokus pada kisah Nanase Haruka (CV: Shimazaki Nobunaga) dan Tachibana Makoto (CV: Suzuki Tatsuhisa) selepas kepergian Rin usai kemenangan tim mereka sebelumnya dalam pertandingan swimming relay. Ditemani dua tokoh baru, Shiina Asahi (CV: Toyonaga Toshiyuki) dan Kirishima Ikuya (CV: Uchiyama Kouki), keduanya menjalani hari-hari bersama klub renang baru mereka di SMP.


Alur film ini dimulai dengan lambat, dipenuhi dengan suasana kehampaan setelah kepergian Rin, yang membuat Haruka lagi-lagi tidak tertarik untuk mengikuti relay dan keraguan Makoto akan perasaannya sendiri terhadap olahraga renang. Di sisi lain, Ikuya, adik dari ketua klub renang SMP Iwatobi, masih dibayang-bayangi oleh kebencian akan tindakan kakaknya yang dulu begitu dekat dengannya namun kini agak menjauh tanpa alasan yang bisa ia pahami. Kebencian itu membuat Ikuya enggan untuk mengikuti kegiatan klub dan hampir memutuskan untuk keluar dari sana. Masalah kian bertumpuk ketika Asahi yang semula begitu bersemangat untuk mengajak anak-anak lain untuk bergabung dengan klub renang, tiba-tiba dihantam oleh  sebuah tekanan batin yang membuatnya kesulitan untuk melakukan gaya renang bebas.


Ending dari film ini menurut saya terlalu cepat dan abstrak, juga terasa tidak sinkron dengan serial anime yang menjadi kelanjutan kisahnya. Ikatan yang terbentuk di antara keempat tokoh utama terada tidak alamiah, dikarenakan durasi film yang tidak memadai untuk mengembangkan koneksi mereka. Bahkan Haruka dan Makoto, yang seharusnya memiliki dasar lebih kuat dalam persahabatan mereka, terasa tidak saling klop dalam film satu ini.

CHARACTERS:

Nanase Haruka masihlah Nanase Haruka yang sama yang hanya berenang sesuka hatinya dan sama sekali tidak tertarik dengan kemenangan atau pertandingan juga kerja sama tim. Sisi Haru yang tidak berubah itu membuat saya bernostalgia, juga agak kecewa, karena masalah yang timbul karenanya adalah masalah yang sama dengan yang muncul baik di anime season pertama maupun season kedua: fragility. Haru merasa ditinggalkan oleh Makoto yang ingin berubah, juga oleh Rin yang terus berjalan menyongsong masa depan. Problema itu wajar dan sesuai dengan kepribadian Haru,  namun saya menginginkan sebuah masalah baru yang akan diatasi dengan cara yang baru. Saya tidak menemukan hal itu. Akan tetapi karena mengingat film ini berdasarkan novel yang keluar lebih dulu dari anime (sementara saya menonton anime lebih dulu daripada menonton film ini atau membaca novelnya), saya sebenarnya tidak memiliki hak untuk protes.

Tachibana Makoto sadar bahwa ia nantinya akan berubah, sebagai remaja dan sebagainya, kemudian tiba-tiba berkata pada dirinya sendiri bahwa ia harus berubah. Perasaan itu ditimbulkan oleh kata-kata senior di klub renang perihal keberadaannya di klub renang yang didasarkan pada Haru, dan bukan pada keinginannya sendiri untuk menikmati renang. Makoto mungkin kesulitan menerima kenyataan bahwa sebagian besar pilihan vital dalam hidupnya ia buat dengan memikirkan Haru dan bukan dirinya sendiri. Dalam film ini, Makoto menunjukkan sisi rapuh dalam dirinya yang normalnya tak nampak di depan orang-orang lain.

Shiina Asahi ingin percaya bahwa dia adalah seorang jenius yang tidak memiliki kelemahan sedikitpun, namun setelah melihat kemampuan Haru berenang, tanpa sadar ia merasa takut dan minder. Perasaan itu membuatnya gugup sehingga ia gagal melakukan renang gaya bebas di setiap sesi latihan klub, yang mengakibatkan lebih banyak perasaan frustasi.

Kiriyama Ikuya hanya ingin satu hal di dunia ini: selalu bersama dengan kakaknya. Mereka berdua telah berjanji akan berenang di level dunia begitu tumbuh dewasa, bersama-sama. Namun dalam rasa kagum dan sayangnya kepada sang kakak, Ikuya mulai mempersempit dunianya dan merasa tidak membutuhkan orang lain selain kakaknya. Melihat hal itu, dengan putus asa, Natsuya, sang kakak, berusaha menyelamatkan adiknya dengan cara menjauhkan diri dari Ikuya, menyuruhnya mencari teman baru dan memperluas dunianya. Di mata Natsuya, ia sedang membantu adiknya sendiri berdiri dengan kakinya sendiri dan tidak terus berjalan di bawah bayang-bayang sang kakak. Namun di mata Ikuya, dia baru saja dikhianati oleh kakaknya sendiri.

Keempat karakter tersebut dimainkan dengan lihai oleh seiyuu masing-masing, yang berhasil menampilkan emosi dan kepribadian yang beragam.


ART

Kyoto Animation, seperti biasa, tidak meninggalkan celah. Gambarnya rapi dan indah, animasinya memukau, dan warnanya sedap untuk dipandang. No complaint there. Kyoto Animation selalu berhasil menyajikan animasi terbaik.

MUSIC

Saya menikmati soundtrack dalam film ini, yang disesuaikan dengan suasana dalam tiap scene. Lagu penutup yang dibawakan oleh OLDCODEX, tak ragu lagi, indah dan bisa dinikmati, baik musiknya maupun liriknya.

ENJOYMENT

Saya memberikan 4 bintang untuk film satu ini.


Comments

Adsterra

Popular Posts