Kucing Tanpa Cakar
Kucing tanpa cakar Berdiri di depan pintu kamar mandiku Kulit pada moncongnya berdebu Sementara bulu pada punggungnya masih sehalus beludru Kumiringkan kepala Mencengkeram gelas kopi yang sedang kuramu Kutanya pada si kucing yang masih termangu Apa yang kau tunggu? Apa yang kau mau? Si kucing bergeser sebagaimana bayanganku dalam cermin terpantul Suaranya mengeong sendu Meminta sesuatu yang tidak ada dalam genggamanku Susu? Keju? Telur rayap? Anak tikus? Di sela-sela atap jika kau mau, kataku Naiklah lewat tangga di sebelah kandang burung Melompatlah lewat jendela yang tidak pernah ditutup Si kucing tanpa cakar pun berlalu Ekornya berayun seperti pohon pisang yang ditiup angin puting beliung Berapa lama kau bisa hidup? Tanyaku di tiap teguk kopi panasku Berapa lama hingga cakarmu berhenti jadi sekadar kuku? Sragen, 12 Mei 2025








